Upacara Garebeg

Upacara Garebeg adalah upacara kerajaan yang diselenggarakan tiga kali dalam setahun untuk keselamatan negara (wilujengan negari), yaitu berupa keluarnya gunungan dari keraton untuk diperebutkan oleh para pengunjung sebagai sedekah raja (kucah dalem) untuk rakyatnya. Upacara Garebeg yang dilaksanakan oleh Kraton Yogyakarta ada tiga macam, yaitu Garebeg Mulud, Garebeg Syawal, dan Garebeg Besar.

Garebeg Mulud diselenggarakan setiap tanggal 12 bulan Mulud (Rabiulawal) untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Garebeg Syawal diselenggarakan setiap tanggal 1 bulan Syawal untuk merayakan hari raya Idul Fitri atau hari kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Garebeg Besar diselenggarakan setiap tanggal 10 bulan Dzulhijah untuk memperingati hari raya Haji atau hari raya Idul Adha.

Untuk Garebeg Mulud, setiap 8 tahun sekali, yaitu pada Bulan Mulud tahun Dal, Kraton Yogyakarta menyelenggarakannya secara istimewa, yaitu Garebeg Mulud Dal. Dalam upacara tersebut perayaannya lebih meriah dan perlengkapannya lebih banyak. Hal ini dikarenakan adanya keyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Bulan Mulud (Rabiulawal) tahun Dal.

Dalam upacara Garebeg Mulud tahun Dal, jumlah gunungan yang dikeluarkan sebanyak 7 buah, yaitu:
  1. 1 buah Gunungan Brama (Gunungan Kutuq)
  2. 2 buah Gunungan Kakung
  3. 1 buah Gunungan Putri
  4. 1 buah Gunungan Darat
  5. 1 buah Gunungan Pawuhan
  6. 1 buah Gunungan Gepak
Dalam upacara Garebeg Mulud bukan tahun Dal, jumlah Gunungan yang dikeluarkan hanya 6 buah, yaitu:
  1. 2 buah Gunungan Kakung
  2. 1 buah Gunungan Putri
  3. 1 buah Gunungan Darat
  4. 1 buah Gunungan Pawuhan
  5. 1 buah Gunungan Gepak
Dalam upacara Garebeg Besar ada 5 gunungan yang dikeluarkan, yaitu:
  1. 2 buah Gunungan Kakung
  2. 1 buah Gunungan Putri
  3. 1 buah Gunungan Darat
  4. 1 buah Gunungan Pawuhan
  5. 1 buah Gunungan Gepak
Dalam upacara Garebeg Syawal, hanya ada 1 buah gunungan yang dikeluarkan, yaitu Gunungan Kakung.

Bentuk-bentuk ritus yang ditampilkan dalam Garebeg adalah
  1. Persiapan fisik dan non fisik para petugas upacara
  2. Upacara selamatan menjelang pembuatan gunungan
  3. Pembuatan gunungan 
  4. Arak-arakan gunungan dari kraton ke Masjid Besar
  5. Pembacaan doa
  6. Perebutan gunungan
Urutan atau tata cara ritual dalam penyelenggaraan Upacara Garebeg terdiri dari beberapa tahapan. Tahap-tahap tersebut adalah tahap persiapan, tahap pembuatan gunungan, dan tahap pelaksanaan upacara.
1. Tahap Persiapan
Ada 2 jenis persiapan yang harus dilakukan, yaitu persiapan fisik dan persiapan non fisik. Persiapan fisik berwujud benda dan perlengkapan, sedangkan persiapan non fisik berwujud sikap dan perbuatan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan upacara. Untuk persiapan non fisik, para abdi dalem yang akan terlibat dalam penyelenggaraan upacara harus mempersiapkan diri untuk mengemban tugas tersebut. Mereka diharuskan menyucikan diri dengan melakukan puasa dan siram jamas. Sedangkan persiapan fisik yang perlu dipersiapkan adalah gunungan beserta perlengkapannya, benda-benda upacara, benda-benda pusaka kraton, dan perlengkapan para prajurit. 

2. Tahap Pembuatan Gunungan
Tahap awal dalam pembuatan gunungan adalah melakukan selamatan untuk memohon pada Tuhan agar semua tugas dapat terlaksana dengan selamat dari awal hingga akhir. Selamatan tersebut berupa nasi gurih dengan lauk pauknya seperti daging ayam, pecel, sambal goreng, rempeyek, krupuk, tempe goreng, ketan, kolak, dan apem. Setelah dilakukan selamatan, maka pembuatan makanan untuk perlengkapan gunungan mulai dikerjakan.

Pada saat Garebeg Mulud dan Garebeg Besar, sebelum membuat gunungan akan dilakukan upacara “Numplak Wajik”. Wajik tersebut akan digunakan sebagai landasan dalam pembuatan Gunungan Putri. Upacara ini dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB di Bangsal Pareden kilen kompleks Magangan. Upacara “Numplak Wajik” akan diawali dengan gejogan (gejog lesung) dengan menyanyikan kidung tolak bala berjudul tundhung setan dan lompong keli.

Penyiapan gunungan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah penyiapan bahan-bahan yang digunakan untuk gunungan seperti pembuatan kucu, upil-upil, tlapukan, rengginan, sabunan, tedheng, eblek, bethetan, ilat-ilatan, ole-ole, baderan, bendul, sangsangan, dengul, pelokan, thengkilan kacang, rangkaian kacang gleyor, dan lombok. Persiapan ini dilakukan di pawon wetan (sekulanggen) dan pawon kilen (gebulen). Tahap kedua adalah pemasangan materi pada rangka gunungan yang dikerjakan di Magangan. Tahap ketiga adalah melengkapi gunungan menjelang upacara pada pagi hari dengan kain samir dan kain bangun tulak, serta diperiksa kelengkapan materinya yang dilakukan di Bangsal Ponconiti.

Beberapa materi yang terdapat dalam gunungan adalah sebagai berikut.
  • Kucu, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk cincin kecil dengan jumlah yang sangat banyak.
  • Upil-upil, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2 x 1,5 cm, diberi tangkai bambu, dijemur sampai kering, dan dibuat dalam 5 warna, yaitu merah, putih, hijau, kuning, serta hitam.
  • Tlapukan, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk bintang persegi enam dengan garis tengah 8 cm, tebal 1 cm, bagian tengah diberi lubang untuk memasukkan sujen lalu dijemur sampai kering, dan dibuat dalam 5 warna, yaitu merah, putih, hijau, kuning, serta hitam. Masing-masing warna berjumlah 100 buah.
  • Rengginan, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk liingkaran dengan diameter 10 cm, tebal 1 cm, dijemur sampai kering lalu digoreng. Dibuat dalam 1 warna, yaitu putih dengan jumlah 500 buah.
  • Tedheng, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk segitiga sama sisi, bagian tepi diberi lubang untuk dimasukkan tali untuk digantung pada tubuh gunungan. Dibuat dalam 1 warna, yaitu merah dengan jumlah 24 buah.
  • Eblek, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 20 x 15 cm, berwarna merah, dan berjumlah 4 buah.
  • Bethetan, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk lonjong dan bagian atasnya dibengkokkan sehingga menyerupai kepala burung. Dibuat dalam warna merah dengan jumlah 30 buah.
  • Ilat-ilatan, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 30 x 3 cm dan pada salah satu ujungnya digunting lebih kecil. Dibuat dalam 5 warna, yaitu hitam sebanyak 74 buah, merah sebanyak 14 buah, putih sebanyak 14 buah, hijau sebanyak 14 buah, dan kuning sebanyak 14 buah.
  • Ole-ole, terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu ditumbuk sampai halus, berbentuk seperti cambuk yang merupakan gabungan antara 6 buah kucu dan 5 warna upil-upil.
  • Sabunan, berupa gulungan daun pisang kering (klaras) yang dipotong sepanjang 5 cm yang akan ditancapi 5 warna upil-upil.
3. Tahap Pelaksanaan Upacara
Pada pukul 06.00 di hari pelaksanaan upacara, seluruh gunungan dibawa ke Keben, diletakkan di Bangsal Ponconiti. Di tempat tersebut gunungan akan diperiksa kelengkapannya, baik hiasan maupun makanan yang ada. Setelah semuanya lengkap, maka upacara segera dimulai. Pada saat upacara Garebeg Mulud, satu Gunungan Kakung akan diserahkan ke Pura Pakualaman. Setelah diterima, Sri Paduka Paku Alam beserta para sentana akan mengambil apa yang diinginkan. Setelah itu gunungan tersebut dibawa ke Masjid Pakualaman untuk diperebutkan para pengunjung.

Khusus untuk Gunungan Brama pada upacara Mulud tahun Dal tidak diperkenankan untuk diperebutkan oleh pengunjung, tetapi dibawa masuk kembali ke kraton untuk diperebutkan oleh sultan beserta permaisuri, dan putra-putri, serta kerabat dalem di Gedong Jane. Urut-urutan dalam perebutan adalah sultan, permaisuri, putra-putri dalem, kerabat dalem, abdi dalem, kemudian para pengunjung. Untuk gunungan lainnya akan diserahkan pada Kyai Pengulu untuk didoakan di Masjid Besar. Dalam doanya, Kyai Pengulu memohon keselamatan untuk sultan, para putra dan kerabat dalem, dan keselamatan untuk kerajaan beserta rakyatnya. Sesudah didoakan, gunungan diperebutkan kepada para pengunjung. Setelah materi gunungan habis, kerangka dikembalikan ke Magangan. Dengan demikian berakhirlah rangkaian upacara Garebeg.

location Kraton Yogyakarta
start date 12 Mulud, 1 Syawal, 10 Dzulhijah
source
  • Suyami. (2008). Upacara Ritual di Kraton Yogyakarta: Refleksi Mithologi dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Kepel Press.
  • http://www.tasteofjogja.org/contentdetil.php?kat=artk&id=MTc4&fle=Y29udGVudC5waHA=&lback=a2F0PWFydGsmYXJ0a2thdD02JmxiYWNrPQ==

Foto

Lokasi