Rama Sas

Rama Sas (Sasmintadipura) lahir dengan nama Soemardjono pada tanggal 9 April 1929. Sejak kecil ia sudah dikenalkan pada wayang oleh ayahnya. Soemardjono sangat mengagumi Arjuna, tokoh baik yang tidak pernah terkalahkan. Pada awalnya, Soemardjono belajar tari atas perintah ibunya yang khawatir melihat kebiasaan buruknya, yaitu main kartu dan merokok dalam usia yang masih sangat muda. Yang pertama kali mengajarinya menari adalah teman akrabnya, Suyadi. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Nasional, Soemardjono memutuskan untuk mempelajari tari klasik gaya Yogyakarta secara mendalam di kraton. Ia mulai magang sebagai penari kraton di usia 13 tahun. Gurunya menari adalah R. Atmasemedi. Kemudian oleh KRT Purbaningrat, ia dilatih lebih intensif. Wajah yang tampan, kulit kuning, dan postur tubuh yang ramping membuat gurunya mengarahkan Soemardjono sebagai penari putri. Agar menjadi penari yang baik, ia harus belajar keras, disiplin, dan menjiwai karakter yang diperankannya. Berkat keuletannya, dalam waktu yang singkat ia telah memainkan beberapa peran penting dalam pentas Wayang Wong, antara lain Dewi Mustikawati, Dewi Kunti, Dewi Suprabawati, dan Dewi Srikandi. Pada waktu Sri Sultan Hamengkubuwana IX memerintahkan KRT Purbaningrat untuk mentranformasikan gerak-gerak Wayang Golek ke dalam gerak-gerak tari, Soemardjono terpilih untuk menarikan tari ciptaan Sri Sultan tersebut dengan peran Dewi Sirtupelaeli.


Kesibukan berlatih tari di kraton membuat Soemardjono memutuskan untuk keluar dari sekolah. Selama ia menjadi penari putri di kraton, tari putra gagah dan tari putra alus tidak diajarkan padanya. Hal ini bertujuan agar ia betul-betul menghayati dan mendalami karakter tari putri. Soemardjono yang keingintahuannya besar tidak kehilangan akal. Pada waktu istirahat, ia mencermati teman-temannya yang belajar tari putra gagah dan tari putra alus, kemudian ia mempraktekkannya di rumah.

Berkat kemampuan dan dedikasinya selama magang menjadi penari, Sultan Hamengku Buwana IX menganugerahinya pangkat sebagai Abdi Dalem Jajar dengan nama Prajaka Mardawa pada tahun 1946. Kemudian pada tahun 1955, pangkatnya menjadi Raden Bekel dengan nama Sasminta Mardawa. Pangkat Raden Lurah diterimanya pada tahun 1977, pangkat Raden Wedana diterima pada tahun 1984, pangkat Raden Riyo diterima pada tahun 1989 dengan nama sama. Pangkat terakhir, Kangjeng Raden Tumenggung diterimanya pada tahun 1994 dengan nama Sasmintadipura.

Rama Sas tidak hanya berhenti sebagai penari saja, tetapi juga sebagai pencipta. Tari Golek Cluntang adalah tarian yang pertama kali dibuat olehnya. Karena keuletan, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki, ia mendapat pengakuan dan diangkat sebagai guru tari di Bebadan Among Beksa Keraton Yogyakarta pada tahun 1956. Bebadan Among Beksa adalah organisasi tari yang berdiri di luar tembok kraton yaitu di Dalem Purwadiningratan pada tahun 1950 di bawah naungan Kawedanan Hageng Punakawan Kridha Mardawa Kraton Yogyakarta. Di Among Beksa inilah Rama Sas lebih leluasa mendalami tari putra alus dan tidak lagi memerankan peran putri. Beberapa peran yang pernah dimainkannya adalah sebagai Prabu Jungkung Mardeya, Prabu Hendragupita, Bathara Wisnu, dan Bathara Guru.

Menurut Rama Sas, dengan belajar tari, seseorang dapat mendapatkan pendidikan lahir dan batin. Pendidikan lahir berupa tata susila, yang diperoleh melalui paugeran-paugeran (patokan) tari yang dulu diajarkan sangat ketat. Pendidikan batin yaitu budi pekerti meliputi cara berpikir, pandangan hidup dalam kaitannya dengan Tuhan. Atas dasar tersebut, Rama Sas merasa perlu memetri (rasa memiliki, sehingga ada usaha mengetahui dan mempelajari), melestarikan (agar tetap hidup), dan mengembangkan dengan tetap berpegang pada sumber pokoknya.

Beberapa tari karya Rama Sas antara lain:
  1. Tari Golek (Golek Clunthang, Golek Lambangsari, Golek Asmarandana Bawaraga)
  2. Tari Putri (Tari Langen Tirta, Tari Sekarini, Tari Kusuma Sekar)
  3. Tari Putra (Tari Wiraga Tunggal Gagah, Tari Harjuna, Tari Wira Yuda)
  4. Tari berpasangan (Beksan Srikandi melawan Suradewati, Beksan Pandhu melawan Narasoma, Beksan Golek Menak Umarmaya melawan Jayengpati)
  5. Tari Fragmen (Wayang Wong cerita Sri Tumurun, Drama Tari Bertimbang Sinta Murca, Wayang Topeng cerita Asmarabangun Krama)
  6. Tari Srimpi ( Srimpi Kadarwati melawan Umyumadikin, gending Pandelori ; Srimpi Srikandi melawan Larasati, gending Gambirsawit ; Srimpi Kelaswara melawan Adininggar, gending Purwagilang)
  7. Tari Bedaya (Bedhaya Panukmaningsih, Bedhaya Sekar Jatiningsih, Bedhaya Purnama Jati)
Pengabdian Rama Sas di bidang tari berakhir ketika Tuhan memanggilnya pada 26 April 1996. Sebelum meninggal, Rama Sas berpesan agar tari klasik gaya Yogyakarta tetap dilestarikan.

owns -
job title Penari, K.R.T. Sasmintadipura
gender Laki-laki
birth date 1929-04-09
death date 1996-04-26
awards
url
source Tembi (http://www.tembi.org/perpus/2007_06_perpus02.htm)
http://www.tamanismailmarzuki.co.id/tokoh/dipura.html
http://tembi.org/majalah-prev/2001_09_sasminta.htm

Foto

Lokasi