Sanggit

Tari Sanggit merupakan “sanggit” (kreativitas) Bagong Kussudiardja dalam menerjemahkan kondisi politik rezim Orde Baru masa itu ke dalam seni tari berdasarkan kosmologi wayang.  

source TEATER TARI SANGGIT, “BAGONGISME” TERUS BERLANJUT http://www.kelola.or.id/blog/?p=488
about

”Sanggit” Bagong berkisah tentang kekacauan yang terjadi di Jonggring Salaka — manifestasi kebesaran kayangan dalam jagat pewayangan. Bathara Guru, pimpinan para dewa selalu melibatkan diri dalam kehidupan manusia. Keterlibatan itu membuatnya tak berjarak dengan keduniawian, akibatnya hidup jadi gonjang-ganjing dan dilanda krisis. Bathara Ismaya (Semar) terjun untuk mengatasi persoalan. Tapi ia tak sanggup, karena dewa yang sering digambarkan sebagai wakil rakyat jelata itu punya persoalan sendiri. Di waktu lampau ia pernah menelan telur dunia (endhog jagad) –simbol keserakahan duniawi. Kini ia berusaha memuntahkannya kembali, tapi usahanya menemui kesulitan. Kehidupan menjadi normal setelah Sang Hyang Wenang, dewa para dewa, turun tangan menenangkan keadaan. Semar mengatasi krisis, sekalipun menghadapi lontaran kritik dan celaan Bathara Anthaga (Togog). Semar tegar, tapi Togog yang vokal jatuh terkapar. Itu kisah “Sanggit” yang dipentaskan tahun 1998.

Kini ceritanya sedikit diubah dengan mengambil tema moralitas, bukan lagi politik. “Sanggit” versi baru masih mengenai kekacauan dunia dan juga jagat kayangan. Dikisahkan Semar bingung melihat kelakukan Guru, raja diraja para dewa, yang merusak tatanan kehidupan. Namun, Semar tidak dapat berbuat banyak. Kemudian munculah Bagong (diperankan oleh Butet), anak Semar yang muncul dari bayang-bayang. Ia ingin membatu ayahnya, namun terus diejek oleh Guru dan pamannya Togog hingga harus “masuk kotak”. Semar terus memikirkan kondisi kayangan yang memburuk. Ia sedih dan putus asa karena Guru dan Togog tidak peduli dan hanya bisa menghujat. Mereka bahkan tidak peduli dengan kematian Bagong yang diiringi persoalan panjang, persoalan yang juga terjadi di dunia nyata. Akhir cerita sengaja dibuat menggantung dengan alasan masalah moral yang diangkat dalam pementasan tersebut, harus diselesaikan sendiri-sendiri secara pribadi. Bukan hanya menggunakan kosmologi wayang, bentuk pementasan tersebut juga layaknya wayang orang yang terbagi dengan adegan jejer, kedaton, pasewakan jaba, perang gagal, goro-goro, perang kemban. Namun, urutan dan ritme pertunjukannya disusun sedemikian rupa hingga konsentrasi penonton tetap terjaga. Penonton tidak dibiarkan mengantuk, sebelum bosan adegan berganti atau tarian dan musik berubah menjadi lebih dinamis. Seperti pertunjukan wayang pula, goro-goro menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Pada adegan ini, Bagong, Guru, dan Togog membanyol dengan lelucon segar ala Teater Gandrik pimpinan Butet Kertaredjasa yang turut menyumbangkan unsur segar dalam pentas teater tari itu.

Perbedaan antara “Sanggit” tahun 1998 dan 2005 lain ada pada musik. Meskipun iringan musik tetap dipegang Djaduk Ferianto, tapi unsur diatonik dihilangkan dalam pentas terbaru kali itu. Ia sebelumnya menggunakan sejumlah organ dan synthetizer, sedangkan dalam pentas ulang itu Djaduk kembali ke habitatnya, gamelan –secara khusus gamelan Jawa gaya Yogjakarta. Satu unsur yang pastinya masih sama, yaitu bentuk tarian “Bagongisme” yang memadukan gerakan tari Jawa yang kontemplatif dan Bali yang dinamis dengan perpaduan teknik tari modern. 

creator Bagong Kussudiardjo

Foto

Lokasi